TEKNOVIDIA.BIZ.ID – Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada cuaca ekstrem atau pun kenaikan suhu global saja, tetapi juga dapat menyebabkan perubahan serius terutama dalam hubungan antara manusia dan lingkungan.
Salah satu dampak yang kini semakin menegangkan adalah perubahan perilaku pada nyamuk, serangga penghisap darah yang berperan besar dalam penularan berbagai penyakit.
Dalam beberapa tahun terakhir, nyamuk semakin sering menjadikan manusia sebagai sumber makanan utama.
Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab, rusaknya habitat alami akibat deforestasi, perubahan iklim, dan ekspansi pemukiman berperan menjadikan nyamuk kehilangan inang alaminya.
Akibatnya, nyamuk lebih memilih beradaptasi dengan lingkungan manusia demi bertahan hidup.
Pertanyaan pun muncul, apakah nyamuk benar-benar terpengaruh perubahan iklim?
Tentu jawabannya benar bahwa nyamuk terpengaruh perubahan iklim.
Dilansir dari Media Indonesia, hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan di kawasan sisa Hutan Atlantik (Atlantic Forest) di Brasil.
Wilayah tersebut mengalami fragmentasi parah akibat deforestasi dan pembangunan, hingga pada akhirnya mengubah keseimbangan ekosistem secara drastis.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa nyamuk yang sebelumnya hidup jauh di dalam hutan kini mulai bermigrasi mendekati permukiman manusia.
Hilangnya tutupan hutan dan juga meningkatnya suhu lingkungan memaksa nyamuk beradaptasi, termasuk mengubah preferensi inang mereka.
Dari yang awalnya nyamuk bergantung pada satwa liar menjadi nyamuk yang lebih sering menggigit manusia.
Ahli biologi, Jeronimo Alencar menjelaskan bahwa pergeseran ini sangat krusial dan berbahaya.
Menurunnya keanekaragaman inang akibat kerusakan hutan ini bisa meningkatkan risiko penularan patogen.
Jadi, ketika nyamuk kehilangan pilihan maka manusia menjadi target paling mudah dijangkau, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah pinggiran hutan.
Kondisi Hutan Atlantik sendiri disebutkan sangat memprihatinkan. Luasnya hanya tersisa sekitar sepertiga dari ukuran aslinya.
Fragmentasi ini memutus rantai ekosistem, menyebabkan banyak satwa yang sebelumnya menjadi inang alami nyamuk mengalami penurunan populasi.
Dalam situasi tersebut, nyamuk tidak memiliki pilihan selain mendekati manusia.
Nyamuk terpengaruh perubahan iklim, sebelumnya menggigit satwa liar mulai rutin menyerang manusia.
Gigitan nyamuk berisiko spillover, yaitu perpindahan penyakit dari hewan ke manusia yang dapat meningkat secara signifikan.
Hal ini membuat masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan menjadi kelompok yang paling rentan terkena wabah penyakit baru.
Para peneliti juga menekankan bahwa memahami perubahan preferensi inang nyamuk sangat penting bagi otoritas kesehatan.
Informasi tersebut bisa digunakan untuk menyusun strategi pencegahan penyakit yang lebih tepat sasaran, salah satunya dengan cara edukasi masyarakat.
Pada akhirnya, para ahli juga sepakat bahwa perlindungan dan pemulihan ekosistem ini merupakan kunci utama.
Dengan menjaga keseimbangan alam dan habitat satwa liar, nyamuk tidak lagi terdorong untuk bertahan hidup dengan berpindah ke pemukiman manusia.
Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan bukan hanya ancaman bagi alam, tetapi juga bagi kesehatan manusia secara langsung dan bisa menyebabkan nyamuk terpengaruh perubahan iklim.