Cuaca Ekstrem BMKG: Hujan Lebat Hingga Angin Kencang Berpotensi Landa Indonesia 19 –22 Januari 2026

TEKNOVIDIA.BIZ.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa dinamika atmosfer global, regional, hingga lokal masih memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Dalam periode 19 hingga 22 Januari 2026, masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti longsor, dan genangan di berbagai wilayah.

BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) saat ini terpantau berada pada fase negatif atau La Niña lemah.

Kondisi ini mempengaruhi menjngkatnya suplai uap air di atmosfer, sehingga mendukung pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dampaknya, intensitas dan frekuensi hujan bisa meningkat, terutama di wilayah dengan topografi rawan bencana.

Dalam sepekan ke depan, pengaruh dinamika atmosfer diperkirakan masih akan bertahan.

Selain ENSO, faktor regional dan lokal juga turut memperkuat potensi hujan.

BMKG mencatat beberapa wilayah telah mengalami curah hujan ekstrem, di antaranya Jawa Tengah dengan intensitas mencapai 188,4 mm per hari, disusul Banten sebesar 90,2 mm, kemudian Jawa Barat 89,0 mm, serta Sumatera Selatan 50,6 mm per hari.

Angka tersebut menunjukkan hujan dengan kategori lebat hingga sangat lebat.

Tak hanya itu, BMKG juga mengidentifikasi adanya potensi peningkatan seruakan udara dingin (cold surge) dari Benua Asia.

LFenomena ini ditandai dengan adanya perbedaan tekanan udara yang cukup tinggi dari wilayah Gushi, serta peningkatan kecepatan angin di kawasan Laut Cina Selatan.

Kondisi demikian dapat memperkuat pembentukan awan hujan sekaligus meningkatkan risiko angin kencang dan gelombang tinggi di perairan.

Memasuki periode 19 – 22 Januari 2026, cuaca di Indonesia diperkirakan masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.

BMKG mengingatkan potensi peningkatan hujan sedang hingga lebat di berbagai wilayah, termasuk Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Kondisi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh adanya sirkulasi siklonik di selatan Nusa Tenggara Barat yang telah berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.

Selain itu, monsun Asia yang sedang aktif membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan bergerak lebih cepat melalui Selat Karimata yang mencapai wilayah Jawa, sehingga meningkatkan potensi hujan lebat di sepanjang jalur tersebut.

Dalam hal ini BMKG terus mengimbau masyarakat serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

Potensi bencana hidrometeorologi perlu diantisipasi, terutama di daerah rawan bencana.

Masyarakat juga diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas sehari-hari, khususnya yang melakukan kegiatan luar ruang.

Untuk mendapatkan informasi terbaru cuaca ekstrem BMKG dan status cuaca harian, masyarakat perlu rutin memantau pembaruan melalui laman resmi dan kanal informasi BMKG.

Leave a Comment