TEKNOVIDIA.BIZ.ID – Pemerintah telah resmi menetapkan plafon penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2026 sebesar Rp308,41 triliun.
Nilainya meningkat jika dibandingkan dengan realisasi penyaluran 2025 yang mencapai Rp270,08 triliun.
Hal demikian menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Terkait penyalurannya, Bank Rakyat Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai tulang punggung pembiayaan KUR di Indonesia.
Peran BRI dalam penyaluran KUR dan pembiayaan rakyat
Direktur utama BRI Hery Gunardi, menyebut bank pelat merah tersebut sejak lama menjadi backbone penyaluran KUR.
Penyaluran KUR BRI tersebut menjadi bentuk dukungan perseroan ke berbagai prioritas pemerintah seperti, sektor, usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dilansir dari investing.com Selain pembiayaan usaha, BRI juga aktif menyalurkan kredit pemilikan rumah subsidi melalui skema FLPP.
Hingga akhir 2025, KUR BRI tercatat menyalurkan KPR subsidi sebesar Rp16,16 triliun kepada lebih dari 118.000 debitur di seluruh Indonesia.
Di sektor pertanian KUR BRI juga menjadi penyerap pembiayaan terbesar dengan nilai mencapai Rp80,09 triliun.
Tak hanya pembiayaan usaha, BRI juga mensupport berbagai program pemerintah seperti bantuan sosial non-tunai, Program Keluarga Harapan, bantuan sembako, hingga program penguatan ekonomi desa.
Skema baru KUR 2026: bunga tetap dan akses pinjaman tanpa batas
Mengutip dari kontan.co.id Salah satu pembaruan paling signifikan dalam skema KUR 2026 adalah penghapusan pembatasan frekuensi pengajuan pinjaman.
Jika sebelumnya pelaku usaha hanya dapat mengakses KUR maksimal 4 kali, kini aturan tersebut dihapus.
Artinya, selama usaha masih berjalan dan dinilai layak, pelaku UMKM dapat terus memperoleh pembiayaan untuk ekspansi bisnis.
Suku bunga KUR ditetapkan flat 6%
Pemerintah juga menetapkan suku bunga KUR tetap sebesar 6% per tahun.
Kebijakan ini berbeda dari skema sebelumnya yang menerapkan bunga berjenjang, di mana bunga meningkat pada pengajuan berikutnya.
Dengan bunga flat tersebut, pelaku UMKM dapat memperoleh kepastian biaya pinjaman dan mendapatkan peluang menjaga keberlanjutan usaha.
Prospek kredit BRI dan kualitas aset tetap terjaga
Untuk 2026, pertumbuhan kredit BRI secara umum diproyeksikan berada di kisaran 7–9%.
Perseroan menegaskan strategi pemilihannya dalam menyalurkan pembiayaan berfokus pada sektor berkualitas guna menjaga imbal hasil optimal sekaligus stabilitas aset.
Kondisi tersebut diperkuat oleh rasio pencadangan kredit bermasalah (NPL coverage) sebesar 178,1%, yang dinilai bisa menjaga ketahanan neraca dan dapat meningkatkan kepercayaan investor serta regulator terhadap fundamental perusahaan.
Dengan plafon yang meningkat, bunganya rendah, serta akses pembiayaannya yang kini semakin fleksibel, skema KUR BRI 2026 menjadi peluang emas bagi pelaku UMKM untuk memperluas usahanya.
Kebijakan ini tentunya menjadi bentuk dukungan pertumbuhan bisnis skala kecil sekaligus penguatan fondasi ekonomi nasional melalui pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.