Cuaca Ekstrem : Hujan Terus Tanpa Henti, Kenapa Bisa Terjadi?

TEKNOVIDIA.BIZ.ID – Hujan terus tanpa henti turun sejak 22 – 23 Januari 2026 membuat banyak masyarakat resah.

Kondisi cuaca ekstrem, hujan terus tanpa henti ini tentu bukan tanpa sebab.

Dalam menghadapi cuaca ekstrem ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi cuaca masih cukup tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

Lantas mengapa hujan terus tanpa henti? Apa penyebabnya? Untuk mengetahui lebih  lanjut simak penjelasan berikut ini.

Fenomena Hujan Berkepanjangan Akhir Januari 2026

Mengutip dari laman resmi bmkg.go.id Hujan yang terjadi secara terus-menerus ini  merupakan dampak dari kombinasi beberapa dinamika atmosfer yang aktif secara bersamaan.

Berdasarkan analisis BMKG, wilayah Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprakirakan mengalami peningkatan intensitas hujan hingga akhir Januari 2026.

Pengaruh Monsun Asia dan Cold Surge

Monsun Asia Sedang Menguat

Salah satu faktor utama penyebab hujan terus tanpa henti adalah menguatnya Monsun Asia yang diperkirakan berlangsung hingga 23 Januari 2026.

Monsun ini membawa udara lembap dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan potensi hujan dalam skala luas.

Seruakan Dingin dari Asia

Penguatan monsun turut disertai seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia.

Fenomena tersebut meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, yang  mendorong pembentukan awan hujan secara masif di beberapa wilayah termasuk Indonesia.

Peran MJO dan Gelombang Atmosfer

Aktivitas MJO dan Gelombang Tropis

Selain monsun, hujan berkepanjangan juga diperkuat oleh aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin.

Ketiganya bekerja bersamaan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan, yang berpotensi memicu hujan lebat disertai angin kencang.

Nilai OLR Negatif Memperkuat Awan Hujan

Didukung oleh nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif, atmosfer menunjukkan kondisi pembentukan awan hujan tebal yang juga menandakan energi konvektif yang tinggi di wilayah Indonesia.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Cuaca Ekstrem

BMKG memprakirakan Jawa Tengah dan Jawa Timur berpotensi mengalami peningkatan cuaca ekstrem pada 24 Januari 2026.

Sementara itu, wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi akan mengalami lonjakan curah hujan pada periode 25–26 Januari 2026.

Kondisi ini diperparah lagi oleh kelembapan udara yang sangat tinggi di lapisan bawah atmosfer yang membuat hujan terus tanpa henti.

Kondisi Terkini di Sejumlah Daerah

Di beberapa wilayah, salah satunya Cirebon, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih rutin terjadi dan kerap disertai angin kencang.

Dalam situasi hujan terus tanpa henti ini meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, pohon tumbang, bahkan tanah longsor yang bisa terjadi kapan saja.

Terkait cuaca ekstrem ini BMKG  mengimbau masyarakat agar tetap waspada, membatasi aktivitas luar ruang saat hujan lebat, serta perlu rutin memantau informasi cuaca terbaru.

Kesiapsiagaan akan menjadi kunci penting untuk meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di beberapa hari ke depan.

Leave a Comment